Tampilkan postingan dengan label mestre pastinha. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mestre pastinha. Tampilkan semua postingan

Kamis, Mei 07, 2009

Father of capoeira Regional_^BIMBA^

Putra Luiz Machado Cândido dan Maria Martinha bernama Manuel dos Reis Machado lebih dikenal sebagai Mestre Bimba (November 23, 1900 - February 15, 1974) lahir di "Bairro do Engenho Velho" di Salvador, Brazil. Nama panggilan "Bimba" muncul karena adanya perdebatan antara ibunya dan bidan selama kelahiran. ibunya bertaruh bahwa yang akan lahir adalah seorang gadis dan bidan bertaruh bahwa yang lahir akan laki-laki. Setelah ia dilahirkan, bidan mengatakan ...it's a boy, look at his "bimba" (organ seksual laki-laki).

Dia mulai belajar Capoeira saat ia 12 tahun, dengan capitão da Companhia Baiana de Navegação (Navigasi Captain) dari Estrada das Boiadas (sekarang bairro da Liberdade) di Salvador bernama Bentinho, walaupun, pada masa itu, Capoeira itu masih merupaka olahraga terlarang. Suatau saat nanti ia akan dikenal sebagai salah satu legenda capoeira yang mengembangkan Capoeira kontemporer yaitu Regional. Yang lain akan Mestre Pastinha, ayah dari Capoeira Angola.
Pada usia 18 tahun, Bimba merasa bahwa Capoeira telah kehilangan identitasnya sebagai seni beladiri dan perlawanan, menjadi kesenian semata. Dan gerakannya dibatasi menjadi hanya sembilan gerakan. Saat itu, Bimba yang mulai mengambil gerakan dari Capoeira fights asli dan ditambahkan gerakan bertarung lain dari Afrika yang disebut Batuque (sejenis kuncian dan pittingan)yang ia pelajari sendiri dari ayahnya (yang seorang juara), serta memperkenalkan gerakan yang dibuat oleh dirinya sendiri. Ini merupakan awal dari perkembangan Capoeira Regional.
Pada tahun 1928, sebuah babak baru dalam sejarah Capoeira dimulai, dan juga perubahan dalam cara orang hitam (dari keturunan Afrika, dibawa ke Brazil sebagai budak). Setelah menunjukkan capoeiranya di istana Bahia pada Gubernur (waktu itu) Juracy Magalhães pada tahun 1930-an. Maka capoeira diakui sebagai olah raga dan kesenian resmi dari Brazil.
Mestre Bimba mendirikan sekolah Capoeira pertama di tahun 1932, bernama akademi-escola de Capoeira Regional, di Engenho dari Brotas Salvador. Sebelumnya, Capoeira hanyalah sebuah permainan "anak-anak kampung/jalanan". Sementara masih dilarang untuk orang-orang kelas atas, untuk memperbaiki nama capoeira yang saat itu menjadi olahraga yang berbahya dan digunakan oleh para penjahat, maka Bimba menetapkan standar yang baru untuk seni bela diri yang satu ini.
Siswanya harus mengenakan pakaian yang bersih, seragam putih, menunjukkan bukti orang beradab, menunjukkan sikap yang baik dan banyak standar lainnya. Sampai akhirnya capoeira bimba menjadi lebih mendapatkan 'pandangan' dari masyarakat menengah keatas.
Pada tahun 1936, Bimba menantang semua orang dari beladiri manapun untuk menghadapinya. Ada empat orang yang terpilih, yaitu Benedito Vitor Lopes, Henrique Bahia, José Custódio dos Santos (Ze I) dan Americo Ciencia. Dan ternyata Bimba berhasil mengalahkannya dengan sedikit waktu dan gerakan.
Pada tahun 1937, dia yang memperoleh sertifikat dewan pendidikan Negara. Setelah Ia menunjukkan capoeiranya di hadapa presiden Brazil waktu itu, Getúlio Dorneles Vargas.
Pada tahun 1942, Mestre Bimba membuka sekolah keduanya di "Terreiro de Jesus - rua das Laranjeiras" (sekarang) "rua Francisco Muniz Barreto". Sekolah samapai saat ini masih tetap dibuka dan diawasi oleh para muridnya, "Vermelho. Dia juga mengajarkan Capoeira pada tentara dan polisi di akademi militer. Dia kemudian dianggap "bapak Capoeira modern".
Tokoh-tokoh yang penting (murid-murid Bimba) diantaranya Dr Joaquim de Araújo Lima (Ex-Governador dari Guaporé), Jaime Tavares, Rui Gouveia, Alberto Barreto, Jaime Machado, Delsimar Cavalvanti, César SA, Decio Seabra, José Sisnando dan banyak murid mestre bimba yang lainnya.
Mestre Bimba adalah ABK di kapal pengangkut batu bara, tukang kayu, kuli panggul di pelabuhan. Tetapi yang pasti dia adalah Capoeirista. Merasa tidak senang dengan janji-janji palsu dan kurangnya dukungan dari pihak yang berwenang di Bahia, ia pindah ke Goiania pada tahun 1973 atas undangan dari bekas muridnya. Dia meninggal satu tahun kemudian, pada 15 Februari 1974 di RS das Clínicas de Goiania karena terkena stroke.
Bimba mengembalikan capoeira kepada hakikatnya, yaitu sebagai suatu seni bela diri. Untuk Bimba, Capoeira adalah seni bertarung. tetapi "peperangan" harus dihentikan.
Mestre Bimba berjuang selama hidupnya untuk apa yang dia percayai, "Capoeira" dan berhasil. Setelah dia meninggal pada tahun 1974, salah satu dari anaknya yaitu Mestre Nenel (Manoel Nascimento Machado), yang masih berumur 14 tahun, mengambil alih akademi Capoeira ayahnya. Nenel masih memegang teguh warisan budaya dan sejarah dari ayahnya dan dia adalah Presiden Filhos de Bimba School of Capoeira.

Read More......

Rabu, Mei 06, 2009

Father Of capoeira Angola, ^PASTINHA^


Vicente Ferreira Pastinha (biasa disebut Mestre Pastinha) (April 5, 1889, Salvador, Bahia, Brasil - November 13, 1981) adalah seorang Mestre (master practitioner) dari "the Afro-Brazilian martial art Capoeira".

Putra José Señor Pastinha dan Eugenia Maria de Carvalho, dia mengenal Capoeira pada usia 8 tahun dari seorang Afrika bernama Benedito. ceritanya berawal dari seorang anak yang lebih besar dari dia yang berada di lingkungannya sering memukulinya. Suatu hari Benedito melihat keadaan Pastinha yang menderita, dan kemudian menyuruh dia untuk datang ke rumahnya karena ia akan mengajarkan kepadanya beberapa hal. setelah belajar beberapa lama, pastinha dalam pertarungan berikutnya dengan anak yang lebih besar itu dapat menang dengan cepat dan mudah sehingga anak yang lebih besar itu menjadi menyukainya.

Pastinha adalah seorang anak yang bahagia dan sederhana. Pada pagi hari ia akan mengambil kelas seni di Liceu de e Ofício sekolah dimana ia belajar melukis; emudian menghabiskan sore harinya dengan bermain layangan dan berlatih capoeira. Pastinha meneruskan latihan capoeira dengan Benedito selama tiga tahun. bersama sahabat baiknya, Jaez Ghiyas.

Kemudian, dia melanjutkan sekolahnya di "sailor school" sesuai dengan kemauan ayahnya. sekolah yang tidak mendukung hobby capoeiranya. di sekolah, dia mengajarkan capoeira pada teman-temannya. pada saat dia berumur 21, dia keluar dari "sailor school" untuk meneruskan cita-citanya menjadi pelukis profesional. di sela-sela waktu luangnya, dia diam-diam terus belajar capoeira. yang pada waktu itu masih terlarang.

Suatu hari di tahun 1941, atas undangan Aberrê (bekas muridnya) Pastinha datang ke "roda" (suatu lingkaran tempat para capoerista bertarung) hari minggu di "ladeira do Gengibirra" yang lokasinya di "bairro da Liberdade", dimana para mestre terbaik akan berkumpul. Pastinha menemui Aberrê yang memang sudah dikenal disana. Setelah menghabiskan sore disana, sorang mestre terbaik Bahia (nama sebuah grupo capoeira) bernama Amorzinho menemuinya dan memintanya untuk memegang kelas capoeira angola.

Akhirnya, Pastinha mendirikan sebuah akademi capoeira angola pertama "Centro Esportivo de Capoeira Angola". tempatnya berada di Pelourinho. Siswanya mengenakan celana hitam dan kaos kuning, kaos yang sama yang dikenakan Ypiranga Clube, klub sepak bola favoritnya.
Dia juga bergabun dengan delegasi dari "First International Festival de Artes Negras" di Dakkar, Senegal pada tahun 1966. dia berangkat bersama João Grande, João Pequeno, Gato Preto, Gildo Alfinete, Roberto Satanás and Camafeu de Oxossi.
Pastinha bekerja sebagai penyemir sepatu, penjahit, pembuat perhiasan emas, penjaga keamanan (leão de chácara) di rumah judi (casa de Jogo) dan menjadi pekerja konstruksi di Porto de Salvador finansial untuk menghidupi dirinya, sehingga dia bisa melakukan apa yang paling dicintai, untuk menjadi Angoleiro (pelaku capoeira Angola).

Sampai pada akhirnya akademi capoeira Pastinha mengaami masa-masa sulit. Pastinha semakin tua, sakit-sakitan, dan mengalami kebutaan total. Pemerintah mengatakan padanya untuk meninggalkan bangunan akademi supaya dapat direnovasi. Tapi kenyataanya tempat itu tidak pernah kembali padanya melainkan dirubah menjadi restoran dan tempat hiburan. Pastinha merasa sakit hati atas perlakuan itu padanya, tapi tak pernah merasa menyesal atas jalan hidup yang dipilihnya, menjadi seorang capoerista. Kemudian Pastinha dipindahkan tempat tinggalnya ke suatu kota (abrigo D. Pedro II - Salvador).

Setelah Pastinha menyerahkan seluruh hidupnya pada capoeira angola, ia memainkan permainan Capoeira terakhirnya pada April 12, 1981. Pastinha, pelindung dan ayah dari Capoeira Angola, meninggal dalam usia 92 tahun pada November 13, 1981. Dia bisa bertahan karena dua murid terbaiknya, João Grande dan João Pequeno yang terus berbagi "pastinha's capoeira angola" dengan dunia.

Daniel Dawson kemudian menulis :
'Pastinha was a brilliant Capoeirista whose game was characterized by his agility, quickness and intelligence (…). Pastinha wanted his students to understand the practice, philosophy and tradition of pure Capoeira Angola. As he said, "I practice the true Capoeira Angola and in my school they learn to be sincere and just. That is the Angola law. I inherited it from my grandfather. It is the law of loyalty. The Capoeira Angola that I learned - I did not change it here in my school… When my students go on they go on to know about everything. They know; this is fight, this is cunning. We must be calm. It is not an offensive fight. Capoeira waits (…). The good Capoeirista must know how to sing, play Capoeira and the instruments of Capoeira."

'Pastinha adalah seorang Capoeirista yang cemerlang yang permainannya terbentuk dari kelincahannya, kecepatannya dan kacerdikannya. Pastinha ingin siswanya untuk memahami praktek, filsafat dan tradisi murni Capoeira Angola. Sebagaimana ia berkata, "Saya berlatih Capoeira angola yang benar dan di sekolah mereka belajar untuk bisa ikhlas dan adil. Itulah filosofi angola. saya mewarisinya dai kakek saya. Inilah hukum loyalitas. The Capoeira Angola yang saya pelajari - Saya tidak mengubahnya di sekolah ini ... ketika para muridku pergi untuk mencari tahu tentang semuanya. Mereka tahu, ini adalah peperangan, ini adalah licik. Kami harus tenang. Ini bukan pertarungan menyerang. Capoeira menunggu (... ). Capoeirista yang baik harus tahu bagaimana cara bernyanyi, bermain Capoeira dan Instrumen dalam Capoeira."

Read More......

Senin, Mei 04, 2009

"Cordao De Ouro" (sabuk emas) dari brazil


Capoeira cordao de ouro didirikan oleh Master Suassuna sekitar tahun 60-an, lebih tepatnya tanggal 1 September 1967, bersama dengan Mestre Brasilia, pada waktu ada fetifal musik besar-besaran di brazil. Grand mestre suassuna mendapatkan gagasan untuk membuka akademi, dan Grand mestre Suassuna memutuskan untuk menggunakan cordao de ouro (yang berarti sabuk emas) sebagai nama grupo. Grand mestre Suassuna mengajarkan Capoeira Regional dan Capoeira Angola bersama Mestre Brasilia di ruang yang sama. tak lama kemudian, Mestre Brasilia mendirikan grupo sendiri, "São Bento Grande". masa ini adalah masa-masa sulit untuk capoeira. capoeira masih dilarang untuk dijadikan sebuah akademi. Grand mestre Suassuna dari Bahia Itabuna pindah ke sao paulo dan terus memperjuangkan capoeira dengan cara menunjukkan teknik dan cara bertarung capoeira. akhirnya Dia membuka akademi pertama di Sao Paulo. Bersama Bambas, tais como Lobão, esdras filho, Tarzan, belisho, Almir das Areias, Caio, dan lainnya.
Capoeiristas yang tadinya bersembunyi (capoeira masa itu masih merupakan hal terlarang) dari utara dan timur laut datang di sini, untuk belajar seni Capoeira, Cordao de ouro menjadi rujukan kepada mereka untuk bergabung dan berlatih. Cordao de ouro adalah akademi yang banyak menghasilkan nama-nama besar. seperti Mestre Flávio Tucano, Biriba, Dal, Marcelo Caveirinha, Urubú Malandro, Espirro Mirim, Xavier, Lúcifer, Torinho, Pial, Cangurú, Sarará, Zé Antônio, Ponciano, Bolinha, Geraldinho, tak lupa juga Mestre Cícero, Mestre Zé Carlos dan Mestre Penteado, yang belajar di akademi ini mengejar "sabuk emas" dari suassuna dan banyak diantaranya yang menjadi mestre besar.
Suassuna tidak pernah berpangku tangan berdiam diri. terus menerus mengembangkan capoeira. hasilnya setelah bertahun-tahun terrciptalah "gerakan capoeira versi baru" yaitu gerakan yang lebih pelan dari regional namun sedikit lebih cepat dari angola. gerakan ini dikembangkan bersama Boca Rica, Habibs, Mintirinha, Kibe, Denis, Saroba, Coruja, Chicote, Chiclete, Kino, Pintado, Lú Pimenta, Barata, Muriel, Esquilo, Romualdo dan lain-lain. gaya permainan baru capoeira yang kini lebih dikenal dengan "Miudinho".

Saat ini, dengan sejumlah cabang cordao de ouro yang tersebar di seluruh dunia, ternyata cordao de ouro memiliki peran menonjol di antara semua grupo capoeira, tidak hanya jasa Mastre Suassuna untuk olahraga dan kebudayaan, tetapi atas patisipasi dan perjuangan semua murid-muridnya. Dalam rangka untuk memelihara capoeira di tingkat yang sangat teknis, kecepatan gerakan , agility, ketahanan, kreativitas, musik dan ke-buas-an capoeira, tanpa melupakan akar-nya. filosofi ini menjadi akar dari miudinho capoeira.

berikut adalah video permainan miudinho yang diciptakan suassuna
silahkan lihat...


Read More......

sejarah panjang capoeira


Capoeira merupakan sebuah olah raga bela diri yang dikembangkan oleh para budak Afrika di Brasil pada sekitar tahun 1500-an. Gerakan dalam capoeira menyerupai tarian dan bertitik berat pada tendangan. Pertarungan dalam capoeira biasanya diiringi oleh musik dan disebut Jogo.

Capoeira adalah sebuah sistem bela diri tradisional yang didirikan di Brazil oleh budak-budak Afrika yang dibawa oleh orang-orang Portugis ke Brazil untuk bekerja di perkebunan-perkebunan besar. Pada zaman dahulu mereka melalukan latihan dengan diiringi oleh alat-alat musik tradisional, seperti berimbau (sebuah lengkungan kayu dengan tali senar yang dipukul dengan sebuah kayu kecil untuk menggetarkannya) dan atabaque (gendang besar), dan ini juga lebih mudah bagi mereka untuk menyembunyikan latihan mereka dalam berbagai macam aktivitas seperti kesenangan dalam pesta yang dilakukan oleh para budak di tempat tinggal mereka yang bernama senzala. Ketika seorang budak melarikan diri ia akan dikejar oleh “pemburu” profesional bersenjata yang bernama capitães-do-mato (kapten hutan). Biasanya capoeira adalah satu-satunya bela diri yang dipakai oleh budak tersebut untuk mempertahankan diri. Pertarungan mereka biasanya terjadi di tempat lapang dalam hutan yang dalam bahasa tupi-guarani (salah satu bahasa pribumi di Brazil) disebut caá-puêra – beberapa ahli sejarah berpendapat bahwa inilah asal dari nama seni bela diri tersebut. Mereka yang sempat melarikan diri berkumpul di desa-desa yang dipagari yang bernama quilombo, di tempat yang susah dicapai. Quilombo yang paling penting adalah Palmares yang mana penduduknya pernah sampai berjumlah sepuluh ribu dan bertahan hingga kurang lebih selama enam puluh tahun melawan kekuasaan yang mau menginvasi mereka. Ketua mereka yang paling terkenal bernama Zumbi. Ketika hukum untuk menghilangkan perbudakan muncul dan Brazil mulai mengimport pekerja buruh kulit putih dari negara-negara seperti Portugal, Spanyol dan Italia untuk bekerja di pertanian, banyak orang negro terpaksa berpindah tempat tinggal ke kota-kota, dan karena banyak dari mereka yang tidak mempunyai pekerjaan mulai menjadi penjahat.

Capoeira, yang sudah menjadi urban dan mulai dipelajari oleh orang-orang kulit putih, di kota-kota seperti Rio de Janeiro, Salvador da Bahia dan Recife, mulai dilihat oleh publik sebagai permainan para penjahat dan orang-orang jalanan, maka muncul hukum untuk melarang Capoeira. Sepertinya pada waktu itulah mereka mulai menggunakan pisau cukur dalam pertarungannya, ini merupakan pengaruh dari pemain capoeira yang berasal dari Portugal dan menyanyikan fado (musik tradisional Portugis yang mirip dengan keroncong). Pada waktu itu juga beberapa sektor yang rasis dari kaum elit Brazil berteriak melawan pengaruh Afrika dalam kebudayaan negara, dan ingin “memutihkan” negara mereka. Setelah kurang lebih setengah abad berada dalam klandestin, dan orang-orang mepelajarinya di jalan-jalan tersembunyi dan di halaman-halaman belakang rumah, Manuel dos Reis Machado, Sang Guru (Mestre) Bimba, mengadakan sebuah pertunjukan untuk Getúlio Vargas, presiden Brazil pada waktu itu, dan ini merupakan permulaan yang baru untuk capoeira. Mulai didirikan akademi-akademi, agar publik dapat mempelajari permainan capoeira. Nama-nama yang paling penting pada masa itu adalah Vicente Ferreira Pastinha (Sang Guru Pastinha), yang mengajarkan aliran “Angola”, yang sangat tradisional, dan Mestre Bimba, yang mendirikan aliran dengan beberapa inovasi yang ia namakan “Regional”.

Sejak masa itu hingga masa sekarang capoeira melewati sebuah perjalanan yang panjang. Saat ini capoeira dipelajari hampir di seluruh dunia, dari Portugal sampai ke Norwegia, dari Amerika Serikat sampai ke Australia, dari Indonesia sampai ke Jepang. Di Indonesia capoeira sudah mulai dikenal banyak orang, disamping kelompok yang ada di Yogyakarta, juga terdapat beberapa kelompok di Jakarta. Banyak pemain yang yang berminat mempelajari capoeira karena lingkungannya yang santai dan gembira, tidak sama dengan disiplin keras yang biasanya terdapat dalam sistem bela diri dari Timur. Seperti yang pernah dikatakan oleh seorang penulis besar dari Brazil Jorge Amado, ini “pertarungan yang paling indah di seluruh dunia, karena ini juga sebuah tarian”.

Dalam capoeira teknik gerakan dasar dimulai dari “ginga” dan bukan dari posisi berhenti yang merupakan karateristik dari karate, taekwondo, pencak silat, wushu kung fu, dll…; ginga adalahgerakan yang merupakan pengganti kuda-kuda dalam bela diri lain

gerakan-gerakan tubuh yang berkelanjutan dan bertujuan untuk mencari waktu yang tepat untuk menyerang atau mempertahankan diri, yang sering kali adalah menghindarkan diri dari serangan. Dalam roda para pemain capoeira mengetes diri mereka, lewat permainan pertandingan, di tengah lingkaran yang dibuat oleh para pemain musik dengan alat-alat musik Afrika dan menyanyikan bermacam-macam lagu, dan pemain lainnya bertepuk tangan dan menyanyikan bagian refrein. Lirik lagu-lagu itu tentang sejarah kesenian tersebut, guru besar pada waktu dulu dan sekarang, tentang hidup dalam masa perbudakan, dan perlawanan mencapai kemerdekaan. Gaya bermain musik mempunyai perbedaan ritme untuk bermacam-macam permainan capoeira, ada yang perlahan dan ada juga yang cepat.

Capoeira tidak saja menjadi sebuah kebudayaan, tetapi juga sebuah olahraga nasional Brazil, dan para guru dari negara tersebut membuat capoeira menjadi terus menerus lebih internasional, mengajar di kelompok-kelompok mahasiswa, bermacam-macam fitness center, organisasi-organisasi kecil, dll. Siswa-siswa mereka belajar menyanyikan lagu-lagu Capoeira dengan bahasa Portugis – “Capoeira é prá homi, / mininu e mulhé…” (Capoeira untuk laki-laki, / anak-anak dan perempuan).

Alhamdulillah setelah sekian lama ngefans sama capoeira dan berusaha mencari dimana dan bagaimana latihan capoeira, akhirnya berhasil menemukan Vadiar capoeira di UIN syarif Hidayatullah jakarta yang merupakan cabang dari groupo capoeira “cordao de Ouro” yang bermarkas besar di Sao Paulo dan atas bimbingan dari contra mestre papa leguas mendirikan Vadiar capoeira yang berada di jakarta dan akan segera menyusul yang lainnya di seluruh indonesia.

Read More......

Capoeira, Jurus Beladiri Para Budak


Alkisah, pada abad ke-16, di sebuah kawasan bernama Angola, Afrika, hidup sekumpulan budak yang dijajah orang Portugis. Mereka hidup menderita di bawah tekanan majikan. Ancaman hukuman gantung dan cambuk membayangi nasib mereka. Akan tetapi, semangat perjuangan mereka tetap menyala. Diam-diam mereka melawan. Mereka berhasil menciptakan jurus bela diri baru: "capoeira".

Capoeira diciptakan berkat kecerdikan budak Angola mengecoh majikan mereka. Keganasan capoeira ditutupi dengan gaya bela diri yang seindah tarian dan disertai nyanyian khas. Tendangan memutar dan melompat yang dilakukan mampu memesona orang-orang yang menyaksikan. Bahkan, dua orang yang sedang latihan bertarung justru terlihat seperti pasangan yang sedang menari. Capoeira semakin berkembang ketika budak-budak Angola tersebar hingga ke Brasil.

Itu adalah satu teori mengenai lahirnya capoeira. Teori lain yang lebih mendapat dukungan adalah bahwa capoeira lahir di Brasil, diciptakan oleh budak-budak yang berasal dari berbagai kawasan di Afrika, antara lain orang Yoruba, Bantu, Angola, Kongo, dan Mozambik. Ahli-ahli sejarah capoeira lebih mendukung teori ini karena yang ada di Afrika hanyalah sebagian unsur yang terpisah-pisah dari seni itu, bukan bentuknya secara keseluruhan. Dari sintesis tarian, pertarungan dan alat musik dari berbagai kebudayaan Afrika yang berbeda oleh para budak itu terciptalah capoeira.

Seiring perkembangan waktu, Capoeira mulai dikenal sebagai bela diri yang agresif. Kebrutalan capoeira makin parah sejak terjadi pembebasan budak pada tahun 1888. Banyak bekas budak miskin yang menganggur kemudian membentuk geng capoeira untuk berbuat kejahatan. Ini membuat Pemerintah Brasil berang dan melarang olahraga ini pada tahun 1892. Mereka yang ketahuan berlatih atau mengajarkan bela diri tersebut akan dihukum berat. Hukumannya berupa pemotongan otot, lutut, bahkan tenggorokan.

Akan tetapi, riwayat capoeira belum berakhir. Banyak pejuang capoeira yang tetap setia dan berlatih secara sembunyi-sembunyi. Akhirnya, pada tahun 1937, Getulio Vargas, Presiden Brasil pada masa itu, setuju mencabut larangan capoeira. Beliau malah ingin mempromosikan capoeira sebagai olahraga khas Brasil.

Capoeira makin menyebar di seluruh dunia berkat jasa Mestre (sebutan untuk master dalam capoeira) Bimba (1899-1974). Ia berhasil mengembangkan gaya capoeira baru yang lebih cepat dibandingkan dengan capoeira Angola, yaitu capoeira regional. Gaya tradisional yang disebut Capoeira Angola dipertahankan dan dikembangkan oleh Mestre Pastinha (1889-1982). Di Brasil dan berbagai negara seluruh dunia, umumnya diajarkan kedua gaya itu walaupun ada kelompok yang hanya mengajarkan Capoeira Regional atau Capoeira Angola saja.

Sekarang rakyat Brasil boleh berbangga hati melihat kesenian ini makin kencang berkibar. Apalagi setelah mendapat wadah promosi gratis di film, videoklip, dan video games.

diambildari http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0401/09/muda/790976.htm

Read More......

  © Blogger templates 'Sunshine' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP